Welcome, Guest
You have to register before you can post on our site.

Username
  

Password
  





Search Forums

(Advanced Search)

Forum Statistics
» Members: 28
» Latest member: kevuna
» Forum threads: 75
» Forum posts: 168

Full Statistics

Online Users
There are currently 2 online users.
» 0 Member(s) | 2 Guest(s)

Latest Threads
Berita dan Informasi Umum...
Forum: Berita umum seputar Gereja Katolik
Last Post: Tahu Aci
01-16-2020, 12:46 PM
» Replies: 19
» Views: 865
Selamat Hari Natal 2019
Forum: Selamat Datang di Forum Agama Katolik
Last Post: Tahu Aci
12-25-2019, 10:58 PM
» Replies: 1
» Views: 177
Natal - 3 Orang Majus dar...
Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci
Last Post: Ari
12-25-2019, 10:30 PM
» Replies: 0
» Views: 72
Rangkaian Kegiatan Natal ...
Forum: Gereja Katolik
Last Post: Ari
12-24-2019, 06:41 PM
» Replies: 3
» Views: 186
Natal dalam Tradisi Gerej...
Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci
Last Post: Ari
12-18-2019, 07:15 PM
» Replies: 0
» Views: 67
Indonesia Youth Day
Forum: Kepemudaan
Last Post: Tahu Aci
12-11-2019, 04:51 PM
» Replies: 1
» Views: 126
Surat Apostolik Paus Fran...
Forum: Vatikan
Last Post: Ari
12-08-2019, 07:24 PM
» Replies: 1
» Views: 112
Relasi Diplomatik Vatikan...
Forum: Vatikan
Last Post: Tahu Aci
12-06-2019, 10:58 PM
» Replies: 0
» Views: 75
Masa Adven
Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci
Last Post: Tahu Aci
12-04-2019, 09:50 PM
» Replies: 1
» Views: 132
Paus Fransiskus : Berhent...
Forum: Vatikan
Last Post: Tahu Aci
11-30-2019, 09:49 PM
» Replies: 0
» Views: 78

 
  Selamat Hari Natal 2019
Posted by: Ari - 12-25-2019, 10:44 PM - Forum: Selamat Datang di Forum Agama Katolik - Replies (1)

Selamat hari Natal.
Semoga damai Natal menyelimuti kita semua di penjuru dunia.  Heart
Amin.

Print this item

  Natal - 3 Orang Majus dari Timur
Posted by: Ari - 12-25-2019, 10:30 PM - Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci - No Replies

Selamat Natal. Merry Christmas.

Dalam perayaan Natal, kisah tentang 3 Orang Majus dari Timur yang hadiah kepada Yesus menarik untuk di bicarakan.

Apa dan siapa 3 Orang Majus dari Timur itu?

Berikut bahasannya yang disadur dari sumber katolisitas http://www.katolisitas.org/siapakah-ke-t...ari-timur/

Fr. William Saunders, Dean Notre Dame Graduate School of Christendom College, kata “majus” sendiri berasal dari kata “magos/ magio” (bahasa Yunani) kemungkinan adalah anggota dari kalangan imam Persia kuno, yang dapat menginterpretasikan bintang. Di jaman Alkitab ditulis, di Persia memang pengetahuan astrologi dan astronomi cukup berperan. Heredotus, seorang ahli sejarah di abad 5 BC (Before Christ = Sebelum Masehi) juga membuktikan adanya peran astrologi yang kuat pada kalangan imam di Persia).

Kunjungan para majus ini telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai oleh bintang: “Aku melihat Dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang Dia tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub; tongkat kerajaan timbul dari Israel….” (Bil 24:17), demikian juga Mzm 72:10-11, “… kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Sheba dan Seba menyampaikan upeti. Kiranya semua raja sujud menyembah kepada-Nya, dan segala bangsa menjadi hamba-Nya!”.

Kita sudah umumnya berpikir bahwa ada tiga orang majus, karena disebutkannya tiga kawasan pada Mazmur 72. Namun sebenarnya tradisi awal Gereja tidak secara konsisten menyebutkan demikian. Para Bapa Gereja di Barat, seperti Origen, St. Leo Agung dan St. Maximus dari Turin- menyatakan ada tiga orang majus. Sedangkan pada karya seni Kristen di Roma yang ada di kuburan St, Petrus dan St, Marcellinus menggambarkan dua orang majus; di kuburan St, Domitilla, empat orang majus dan tradisi gereja Timur, dua belas orang.

Yang sekarang ini dikenal di Gereja Katolik Roma berasal dari tradisi yang diperoleh sejak abad 7, tentang adanya 3 orang majus, dengan nama Melchior, Caspar dan Balthasar. St. Bede (735) menulis tentang hal ini dalam Excerpta et Collectanea, “Orang majus adalah mereka yang memberikan persembahan-persembahan kepada Allah. Yang pertama dikatakan bernama Melchior, seorang yang tua dengan rambut putih dan jenggot yang panjang… yang mempersembahkan emas kepada Tuhan sebagai raja. Yang kedua bernama Casper, muda dan tidak berjenggot, ber-bintik-bintik kemerahan… dengan persembahan kemenyan, persembahan yang ditujukan kepada Sang Ilahi. Ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, bernama Balthasar… dengan persembahan mur yang menandai bahwa Anak Manusia itu yang akan wafat.

Print this item

  Natal dalam Tradisi Gereja Katolik
Posted by: Ari - 12-18-2019, 07:15 PM - Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci - No Replies

Christmas is coming. Heart

Natal Dalam Tradisi Katolik.
Dekorasi Natal tidak selalu identik dengan pohon Natal, salju dan Santa Claus. Inti perayaan Natal sesungguhnya adalah kelahiran Yesus, Sang Juruselamat.

Dalam tradisi Gereja Katolik, semua bentuk hiasan Natal di rumah-rumah seharusnya tidak boleh dipisahkan dari inti Natal itu sendiri di mana ada palungan dengan gambar atau patung yang menggambarkan kelahiran Yesus.

Selain itu tidak kalah penting adalah menceritakan kembali kisah kelahiran Tuhan Yesus pada saat semua anggota berkumpul di rumah. Anak-anak diharapkan tidur sambil merenungkan sang Bayi Yesus yang lahir di dalam hati mereka dan bukan memikirkan permen atau hadiah natal lainnya.

Lalu, dari manakah tradisi dan kebiasaan ini berasal?

Kisah tentang kelahiran Yesus dalam palungan dan gambar-gambar tentang kisah di Betlehem sudah ada dalam Gereja Katolik sejak berabad-abad yang pertama.

Namun, tempat tidur bayi dalam bentuknya sekarang (berbentuk palungan) dan yang digunakan di luar gereja berasal dari Santo Fransiskus dari Asisi melalui perayaannya yang terkenal di Greccio, Italia, pada malam Natal, 1223, dengan pemandangan kota Bethlehem dan termasuk binatang-binatang hidup. Dia membuat bentuk palungan itu menjadi populer.

Sejak saat itulah palungan maupun gambar-gambar (dan patung-patung) tersebut menjadi familiar di rumah-rumah orang Kristen di seluruh dunia.

Tempat tidur bayi dalam bentuk palungan menjadi bagian perayaan Natal yang dipasang di setiap rumah orang Katolik.

Hal ini tidak hanya sepenuhnya mengandung pengertian religius, tetapi juga menyajikan kepada anak-anak dengan bagaimana keadaan saat kelahiran Tuhan Yesus sang Juruselamat kita, dengan menjadikan hiasan Natal tersebut tempat yang suci di rumah-rumah selama masa Natal.

Hiasan Natal tersebut hendaknya ditempatkan dalam posisi terhormat, di atas meja atau pada tempat tertentu yang cocok, tidak terlalu tinggi agar anak-anak dapat melihatnya dengan mudah.

Dengan dekorasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik anak dan menciptakan kekhidmatan suasana Natal di rumah. Palungan sebagai tempat dibaringkan bayi Yesus harus dibuat dengan hati-hati dan dengan usaha yang penuh kasih.

Anak-anak dapat membantu ayahnya untuk menyusun dan mengatur meletakkan patung-patung atau gambar yang terdiri dari tokoh-tokoh Keluarga Kudus, para gembala dan orang Majus dan binatang-binatang atau ornamen-ornamen lainnya di sudut rumah pada malam hari selama masa Adven.

Dari dulu sampai sekarang hal tersebut masih diteruskan sebagai suatu tradisi religius yakni semua anggota keluarga berkumpul dan berdoa bersama pada malam Natal di depan gua Natal atau palungan tersebut yang diawali dengan membaca kisah kelahiran Yesus dalam Injil (Lukas 2) oleh salah seorang anak yang paling tua dilanjutkan dengan doa dan menyanyikan bersama lagu-lagu Natal.

Pada akhir ritual sederhana ini, semua anggota keluarga saling mengucapkan selamat Natal kepada satu sama lain. Pada saat inilah Natal benar-benar baru dimulai dan segala sesuatu yang terjadi sebelumnya hanyalah persiapan.

Pesta Natal memang sudah dimulai di rumah namun yang menjadi yang paling penting adalah perayaan ekaristi dan menerima komuni suci di Gereja setelah perayaan di rumah tersebut sebagai ungkapan syukur, kegembiraan dan kedamaian sebagai satu komunitas iman.

Selamat menyongsong hari Natal. Tuhan Yesus memberkati kita.

Sumber: Catholic Tradition
Diterjemahkan oleh : amorpost

Print this item

  Rangkaian Kegiatan Natal 2019 Paroki Hati Kudus Yesus - Tegal
Posted by: Ari - 12-11-2019, 11:57 PM - Forum: Gereja Katolik - Replies (3)

Salam Damai.
Tidak terasa Natal akan segera tiba, mari umat Paroki HKY Tegal untuk terlibat dan berpartisipasi pada kegiatan/acara yang berkaitan dalam Natal ini.

Salam,

Print this item

  Surat Apostolik Paus Fransiskus 'Admirabile Signum' : Merawat Makna Tradisi Gua Natal
Posted by: Ari - 12-06-2019, 11:42 PM - Forum: Vatikan - Replies (1)

Paus Fransiskus Merefleksikan Makna Gua Natal dengan Menulis Surat Apostolik “Admirabile Signum”

[Image: Paus-Farnsiskus-nativity-scene-in-the-He...tuary.jpeg]

Paus Fransiskus telah menulis Surat Apostolik tentang makna dan pentingnya  Natal. Dia menandatangani Surat itu selama kunjungannya pada hari Minggu sore (1/12-19) ke kota Greccio, Italia.

Greccio adalah desa di pegunungan tempat Santo Fransiskus dari Assisi menciptakan adegan gua natal pertama pada tahun 1223 untuk memperingati kelahiran Yesus. Paus Fransiskus kembali ke kota pada hari Minggu untuk menyampaikan Surat Kerasulannya yang berjudul, “Admirabile signum”. Kata ini berasal dari bahasa Latin, frasa Admirabile signum  ini berarti  tanda yang mempesona. Paus Fransiskus mengingatkan kita semua umat kristiani untuk  mempersiapkan hati kita dengan baik menyambut kelahiran Yesus atau pesta natal.

Gambar yang Mempesona.
Judul Latin dari Surat itu mengacu pada “gambar yang mempesona” dari upacara Natal, yang “tidak pernah berhenti membangkitkan keheranan dan keajaiban”, tulis Paus. “Penggambaran kelahiran Yesus sendiri merupakan proklamasi misteri Inkarnasi Putra Allah yang sederhana dan menyenangkan,” katanya.

Injil yang hidup.
“Adegan kelahiran itu seperti sebuah Injil hidup yang bangkit dari halaman-halaman Kitab Suci yang sakral,” lanjut Paus Fransiskus. Merenungkan kisah Natal seperti memulai perjalanan spiritual, “ditarik oleh kerendahan hati Allah yang menjadi manusia untuk bertemu setiap pria dan wanita.” Begitu besar kasih-Nya bagi kita, tulis Paus, “sehingga Ia menjadi salah satu dari kita, sehingga kita pada gilirannya menjadi satu dengan-Nya. ”

Tradisi Keluarga.
Paus berharap Surat ini akan mendorong tradisi keluarga mempersiapkan adegan kelahiran, “tetapi juga kebiasaan mengaturnya di tempat kerja, di sekolah, rumah sakit, penjara dan alun-alun kota.” Memuji imajinasi dan kreativitas yang masuk ke dalam kelompok kecil ini karya agung, Paus Fransiskus mengatakan ia berharap kebiasaan ini tidak akan pernah hilang “dan bahwa, di mana pun ia tidak digunakan, itu dapat ditemukan kembali dan dihidupkan kembali.”

Asal usul Injil dari crèche.
Paus Fransiskus mengingat asal usul Natal crèche yang terkait dalam Injil. “Datang ke dunia ini, Anak Allah dibaringkan di tempat binatang memberi makan. Palungan menjadi tempat tidur pertama dari Dia yang akan menyatakan diri-Nya sebagai ‘roti turun dari surga’. “Adegan kelahiran Yesus” membangkitkan sejumlah misteri kehidupan Yesus dan membawa mereka dekat dengan kehidupan kita sehari-hari “, tulis Paus.

Santo  Fransiskus ‘crèche di Greccio.
Paus Fransiskus membawa kita  kembali ke kota Greccio, Italia, yang dikunjungi Santo Fransiskus pada tahun 1223. Gua-gua yang dilihatnya di sana mengingatkannya akan pedesaan Betlehem. Pada tanggal 25 Desember, para biarawan dan penduduk setempat datang bersama-sama, membawa bunga dan obor, tulis Paus. “Ketika Fransiskus tiba, dia menemukan palungan penuh jerami, seekor lembu dan seekor keledai.” Seorang imam merayakan Ekaristi di atas palungan, “menunjukkan ikatan antara Inkarnasi Anak Allah dan Ekaristi.”

Awal Tradisi.
Beginilah tradisi kita dimulai, lanjut Paus Fransiskus, “dengan semua orang berkumpul dalam kegembiraan di sekitar gua, tanpa jarak antara peristiwa asli dan mereka yang berbagi dalam misterinya.” Dengan kesederhanaan tanda itu, Santo Fransiskus melakukan pekerjaan besar penginjilan, ia menulis. Ajarannya berlanjut hari ini “untuk menawarkan cara yang sederhana namun otentik untuk menggambarkan keindahan iman kita.”

Sebuah tanda kasih sayang Allah Yang Lembut.
Paus Fransiskus menjelaskan bahwa crèche Natal sangat menyentuh kami karena itu menunjukkan kasih Allah yang lembut. Dari sejak asal usul Fransiskannya, “adegan kelahiran telah mengundang kita untuk ‘merasakan’ dan ‘menyentuh’ kemiskinan yang diambil Anak Allah atas diri-Nya sendiri dalam Inkarnasi”, tulis Paus. “Itu meminta kita untuk bertemu dengan Dia dan melayani Dia dengan menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudari kita yang sangat membutuhkan.”

Arti dari elemen Crèche.
Paus Fransiskus merenungkan makna di balik unsur-unsur yang membentuk adegan kelahiran Natal. Dia mulai dengan latar belakang “langit berbintang yang terbungkus dalam kegelapan dan kesunyian malam.” Kita berpikir ketika kita telah mengalami kegelapan malam, katanya, namun bahkan kemudian, Tuhan tidak meninggalkan kita. “Kedekatannya membawa terang di mana ada kegelapan dan menunjukkan jalan kepada mereka yang tinggal dalam bayang-bayang penderitaan.”

Pemandangan.
Paus kemudian menulis tentang bentang alam yang sering termasuk reruntuhan atau bangunan kuno. Dia menjelaskan bagaimana reruntuhan ini adalah “tanda nyata dari manusia yang jatuh, dari segala sesuatu yang pasti jatuh ke dalam kehancuran, kerusakan dan kekecewaan.” Tempat indah ini memberi tahu kita bahwa Yesus telah datang “untuk menyembuhkan dan membangun kembali, untuk memulihkan dunia dan kehidupan kita untuk kemegahan asli mereka. ”

Gembala.
Beralih ke para gembala, Paus Fransiskus menulis bahwa, “tidak seperti banyak orang lain, sibuk dengan banyak hal, para gembala menjadi yang pertama melihat hal yang paling penting dari semuanya: karunia keselamatan. Adalah orang yang rendah hati dan miskin yang menyambut acara Inkarnasi. “Para gembala menanggapi Tuhan” yang datang untuk menemui kita dalam Bayi Yesus dengan berangkat untuk bertemu dengan-Nya dengan kasih, rasa terima kasih dan kekaguman “, tambahnya.

Orang miskin dan orang rendahan.
Kehadiran orang miskin dan orang rendahan, lanjut Paus, adalah pengingat bahwa “Allah menjadi manusia demi mereka yang paling membutuhkan kasih-Nya dan yang meminta Dia untuk mendekat kepada mereka.” Dari palungan, ” Yesus menyatakan, dengan cara yang lemah lembut namun kuat, kebutuhan untuk berbagi dengan orang miskin sebagai jalan menuju dunia yang lebih manusiawi dan persaudaraan di mana tidak ada yang dikecualikan atau dipinggirkan. ”

Kekudusan sehari-hari.
Lalu ada tokoh-tokoh yang tidak memiliki hubungan nyata dengan kisah Injil. Namun, tulis Paus Fransiskus, “dari gembala ke pandai besi, dari tukang roti ke musisi, dari para wanita yang membawa kendi air kepada anak-anak yang bermain: semua ini berbicara tentang kekudusan sehari-hari, kegembiraan melakukan hal-hal biasa dalam cara yang luar biasa cara.”

Maria dan Yusuf.
Paus kemudian berfokus pada tokoh-tokoh Maria dan Yusuf.

“Maria  adalah seorang ibu yang merenungkan anaknya dan menunjukkan Dia kepada setiap pengunjung”, tulisnya. “Di dalam dirinya, kita melihat Bunda Allah yang tidak menyimpan Putranya hanya untuk dirinya sendiri, tetapi mengundang semua orang untuk mematuhi firman-Nya dan mempraktikkannya. Santo Yoseph berdiri di sisinya, “melindungi Anak dan Ibu-Nya.” Yoseph adalah wali, orang yang adil, yang “mempercayakan dirinya selalu kepada kehendak Tuhan.”

Bayi Yesus.
Tetapi ketika kita menempatkan patung Bayi Yesus di palungan, adegan kelahiran kembali menjadi hidup, kata Paus Fransiskus. “Tampaknya tidak mungkin, tetapi itu benar: di dalam Yesus, Tuhan adalah seorang anak, dan dengan cara ini Dia ingin mengungkapkan kebesaran kasih-Nya: dengan tersenyum dan membuka lengan-Nya kepada semua orang.” Crèche memungkinkan kita untuk melihat dan menyentuh Peristiwa unik dan tak tertandingi ini yang mengubah jalannya sejarah, “tetapi itu juga membuat kita merenungkan bagaimana hidup kita adalah bagian dari kehidupan Allah sendiri.”

Tiga Raja.
Saat Hari Raya Epifani mendekat, kami menambahkan Tiga Raja ke upacara Natal. Kehadiran mereka mengingatkan kita akan tanggung jawab setiap orang Kristen untuk menyebarkan Injil, tulis Paus Fransiskus. “Orang Majus mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang dapat datang kepada Kristus melalui rute yang sangat panjang”, tetapi kembali ke rumah, mereka memberi tahu orang lain tentang pertemuan yang menakjubkan ini dengan Mesias, “sehingga memulai penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa.”

Menyebarkan Iman.
Kenangan berdiri di depan hari Natal ketika kita masih anak-anak harus mengingatkan kita “tentang kewajiban kita untuk berbagi pengalaman yang sama dengan anak-anak kita dan cucu kita”, kata Paus Fransiskus. Tidak masalah bagaimana adegan kelahiran diatur, “yang penting adalah bahwa hal itu berbicara kepada kehidupan kita.”

Crèche Natal adalah bagian dari proses yang berharga namun menuntut untuk meneruskan iman, simpul Paus Fransiskus. “Dimulai sejak masa kanak-kanak, dan pada setiap tahap kehidupan kita, itu mengajarkan kita untuk merenungkan Yesus, untuk mengalami kasih Allah bagi kita, untuk merasakan dan percaya bahwa Allah beserta kita dan bahwa kita bersama Dia.”


Sumber artikel dan gambar : https://www.vaticannews.va/en/pope/news/...aning.html

Diterjemahkan oleh : Daniel B. Kotan.
https://komkat-kwi.org/2019/12/02/paus-f...al-creche/

Print this item

  Relasi Diplomatik Vatikan - Indonesia
Posted by: Tahu Aci - 12-06-2019, 10:58 PM - Forum: Vatikan - No Replies

Hubungan Diplomatik Tahta Suci Vatikan - Indonesia.

[Image: NunciatureLogoR-1.png]

Apostolik Nuncio

Apostolic Nunciature (Kedutaan Tahta Suci – Kedutaan Vatikan) di Indonesia dan kepada Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Dalam kapasitas saya sebagai Nunsius Apostolik (Duta Besar Takhta Suci – Duta Besar Vatikan) di Jakarta dan ASEAN, saya juga merasa terhormat untuk menyampaikan kepada Anda semua salam pribadi dan hormat dari Yang Tersuci Paus Fransiskus, beserta Berkat Apostolik-Nya .

Hubungan diplomatik antara Takhta Suci dan Indonesia didirikan pada awal tahun 1950. Bahkan, pada tanggal 4 Januari tahun itu, Tahta Suci memberikan pengakuannya atas Republik Indonesia Serikat dan, 6 hari kemudian, pada tanggal 10 Januari, kedua Pihak sepakat untuk menjalin hubungan diplomatik dan mendirikan Kedutaan Besar masing-masing di Jakarta dan di Roma.

Pada 16 Maret 1950, H.E. Mgr. George de Jonghe d’Ardoye ditunjuk sebagai Perwakilan Paus pertama di Indonesia dan menyerahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Sukarno pada 6 April berikutnya. Demikian pula, Duta Besar Sukardjo Wirjopranoto, pada 25 Mei 1950, menyampaikan Surat Pernyataan Kepada Paus Pius XII, yang mengakreditasi dia sebagai Utusan Luar Biasa untuk Takhta Suci. Dengan demikian, hubungan diplomatik antara Takhta Suci dan Indonesia secara resmi dimulai, dan telah secara konstan diperkuat dan dibina hingga hari ini.

Hubungan-hubungan yang begitu membahagiakan antara Indonesia dan Takhta Suci, juga merupakan buah dari kehadiran Gereja Katolik yang sangat panjang dan bermanfaat di Negara ini. Secara umum, kita dapat mempertimbangkan permulaannya pada abad ke-16, ketika para misionaris Katolik tiba di Kepulauan Maluku. Kongregasi Para Imam Jesuit, yang termasuk para penginjil pertamanya, memiliki tempat khusus, dengan sosok St. Fransiskus Xaverius yang berkhotbah di Ambon, Ternate, dan Halmahera pada tahun 1546 dan 1647. Para biarawan Dominikan dan Fransiskan juga sangat aktif di Flores dan Timor, serta di Kalimantan dan Jawa. Melayani Gereja Katolik di Negara ini adalah tujuan dan alasan utama pembentukan Nunsiatur Apostolik, guna lebih meningkatkan komunikasi antara Takhta Suci, sebagai pusat Gereja Universal, dan keuskupan-keuskupan, atau Gereja-Gereja Lokal, di Indonesia.

Pertumbuhan dan penyebaran Gereja Katolik di Negara ini, dengan sikap untuk berdialog dengan budaya dan agama yang hadir di sini, juga mendorong Takhta Suci untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Indonesia, dalam rangka saling bekerja sama dalam melayani dan memupuk nilai-nilai moral, perdamaian, serta dialog agama dan kebebasan.

Alasan yang sama tersebut merupakan dasar hubungan diplomatik antara Takhta Suci dan ASEAN, yang didirikan pada 23 Maret 2011, serta kolaborasi bersama mereka untuk mempromosikan kegiatan di bidang dialog antaragama di Kawasan Asia Tenggara, guna memperkuat pemahaman agama dan toleransi.

Dengan memastikan bahwa Perwakilan Diplomatik ini sepenuhnya berbakti dalam tugas yang sangat penting ini untuk kebaikan bersama, saya menyampaikan kepada Anda semua harapan dan salam hormat saya.

Uskup Agung Piero Pioppo

Apostolik Nuncio


Apostolic Nunciature in Indonesia. http://nunciatureindonesia.org/apostolic...o/?lang=id

Print this item

  Paus Fransiskus : Berhentilah Bergosip
Posted by: Tahu Aci - 11-30-2019, 09:49 PM - Forum: Vatikan - No Replies

Paus Fransiskus mengingatkan kepada seluruh umat Katolik agar tidak menghakimi orang lain tanpa terlebih dahulu menilai kekurangan sendiri.

Bapa Paus mendorong umat Katolik untuk berhenti bergosip dan membicarakan kekurangan orang lain. Sebagai gantinya, Paus Fransiskus menyarankan kita agar sebaiknya fokus merenungkan kesalahan yang ada dalam diri kita sendiri.

Berikut ada sejumlah pesan penting yang disampaikan Paus Fransiskus tentang hal bergosip :

“Tuhan ingin mengajari kita untuk tidak mengkritik orang lain, tidak melihat kekurangan orang lain. Lihatlah dulu dirimu sendiri dan kesalahanmu”.

“Jika kamu tidak menyadari kesalahan dan kekuranganmu di dunia ini, maka kamu akan menemukannya di Api Penyucian! Lebih baik menyadarinya di sini. ”

“Kita sangat spesialis dalam menemukan hal-hal buruk dari diri orang lain, tanpa melihat kesalahan kita sendiri.”

“Tindakan bergosip akan menabur perselisihan, menabur permusuhan, menabur kejahatan.”

“Yesus berkata: ‘Sebelum berbicara buruk tentang orang lain, ambil cermin dan perhatikan dirimu sendiri; lihat kesalahanmu dan seharusnya malu karena memilikinya.’”

Pesan untuk refleksi diri

Bapa Paus juga menyarankan kita untuk berefleksi sambil  bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana kita memperlakukan orang lain?

“Bagaimana saya bersikap dengan orang-orang? Bagaimana hatiku di depan orang? Apakah saya munafik? Apakah ketika di depan mereka saya tersenyum tapi ketika di belakang mereka saya mengkritik dan menghancurkan dengan lidah saya?.”

“Jika umat Katolik mencapai Hari Paskah dengan sikap kurang mengkritik orang lain, lebih sedikit bergosip, maka kebangkitan Yesus akan terlihat lebih indah dan lebih besar di antara kita.”

Saran untuk mengurangi kebiasaan bergosip

Memperhatikan kesulitan yang biasa ditimbulkan oleh kebiasaan seperti itu, Paus memberikan saran untuk berdoa sebagai salah satu cara terbaik, terutama untuk mereka yang suka tergoda untuk mengkritik keburukan sesamanya.

“Mintalah Tuhan untuk mengatasi masalahmu. Mintalah Dia untuk  membantu menutup mulutmu dari kebiasaan bergosip. Ingatlah bahwa tanpa doa, kita tidak dapat melakukan apa pun.”

“Ini tidak berarti, bahwa kita hanya diam ketika orang lain melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan atau yang tidak kita sukai. Tapi kita harus berani untuk berbicara langsung dengan orang itu, jangan membicarakannya di belakang mereka.”

“Memang, gosip tidak menyelesaikan apa pun. Itu membuat segalanya lebih buruk …”

Di akhir pesannya, Paus asal Argentina itu menekankan sekali lagi kepada seluruh umat Katolik untuk jangan pernah berhenti berdoa kepada Tuhan.

”Dan berdoalah kepada Tuhan, berdoalah agar dia memberi kita rahmat untuk tidak berbicara buruk tentang orang lain.”

Sumber : catholicnewsagency.com ; katolikpedia.id

Print this item

  Masa Adven
Posted by: Ari - 11-28-2019, 11:11 AM - Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci - Replies (1)

Hallo teman-teman.
Sebelum Natal kita terlebih dahulu melewati masa Adven Natal (masa untuk memperingati menyongsong kelahiran Tuhan Yesus).

Apa itu masa Adven?
Berikut penjelasannya yang dikutip dari sumber katolisitas.org

[Image: seputar-adven-natal-560x420.jpg]

Masa Adven dalam Gereja Katolik.

Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, sehingga Gereja mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal dengan masa Adven. Kata “adven” sendiri berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Masa Adven yang kita kenal saat ini sebenarnya telah melalui perkembangan yang cukup panjang. Pada tahun 590, sinode di Macon, Gaul, menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus. Kita juga menemukan bukti dari homili Minggu ke-2 masa Adven dari St. Gregorius Agung (Masa kepausan 590-604). Dari Gelasian Sacramentary, kita dapat melihat adanya 5 minggu masa Adven, yang kemudian diubah menjadi 4 minggu oleh Paus Gregorius VII (1073-1085). Sampai sekarang, masa Adven ini dimulai dari hari Minggu terdekat dengan tanggal 30 November (hari raya St. Andreas) selama 4 minggu ke depan sampai kepada hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya. Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.

Ini adalah dasar dari pengertian tiga macam kedatangan Kristus yang dipahami Gereja Katolik. Pemahaman ini menjiwai persiapan rohani umat; dan hal ini tercermin dalam perayaan liturgi dalam Gereja Katolik. Sebab di antara kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem dan kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, Kristus tetap datang dan hadir di tengah umat-Nya. Hanya saja, masa Adven menjadi istimewa karena secara khusus Gereja mempersiapkan diri untuk memperingati peristiwa besar penjelmaan Tuhan, menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 524) menuliskan:

KGK, 524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Bdk. Why 22:17.). Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Pada masa Adven, umat Katolik sering melakukan ulah kesalehan yang baik, yang berakar selama berabad-abad. Ulah kesalehan ini bertujuan untuk membantu mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Sang Mesias. ((Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Asas-asas dan pedoman, 97)) Semua ulah kesalehan ini mengingatkan umat akan Sang Mesias yang sebelumnya telah dinubuatkan melalui perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama. Ulah kesalehan ini juga mengingatkan umat Allah akan Kristus yang lahir dari Perawan Maria dengan begitu banyak kesulitan, yang akhirnya terlahir, namun terlahir di kandang, di tempat yang kurang layak. Mari sekarang kita membahas persiapan rohani yang terkait dengan masa Adven.

masa Adven adalah masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus, yang harus diisi dengan pertobatan, yaitu membersihkan rumah hati kita, agar Kristus dapat lahir kembali di hati kita. Kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, maka kita akan mengalami Kristus yang hadir di dalam hati kita, sehingga kita juga akan mempunyai tujuan yang sama dengan Inkarnasi Kristus, yaitu untuk mengasihi dengan memberikan diri kepada sesama kita. Dengan kata lain, Natal mengingatkan kita untuk dapat berbagi kasih dengan sesama. Mari, pada masa Adven ini, kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya.

Datanglah ya Tuhan, lahirlah secara baru di dalam hatiku  Heart

Print this item

  Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam
Posted by: Ari - 11-23-2019, 09:46 PM - Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci - No Replies

Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam ditetapkan oleh Paus Pius IX pada 1925.

[Image: Renungan-Adorasi-Harian-20-Nov-2016-Pic-...708936.jpg]

Pada mulanya dirayakan pada Minggu terakhir bulan Oktober menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November. Melalui ensiklik Quas Primas, Paus mau menunjukkan bahwa dengan gelas Yesus dan perayaan pesta itu, Kristus diakui lebih tinggi dan berkuasa di atas segala kekuatan yang diagung-agungkan oleh dunia.

Pembaharuan liturgi pasca KV II, sejak 1970 menempatkan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada hari Minggu pertama Masa Adven.

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam di rayakan untuk menyambut tahun liturgi yang baru. Kita akan mengawali liturgi baru yaitu Masa Adven I yang akan kita rayakan minggu depan untuk menyambut Dia yang “akan datang sebagai Anak Manusia dalam kemuliaan dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia” (Mat. 25:31). Selama masa Adven, semua orang hendaknya bersukacita dan menyambut kedatangan-Nya dengan pertobatan yang mendalam.

Bagaimana kita tahu kapan Sang Raja yang maha agung itu akan datang? Akankah kedatangan-Nya ditandai dengan bunyi terompet yang memekakkan telinga? Dengan arak-arakkan yang panjang? Lahir di istana yang megah? Dikelilingi dan dilayani oleh dayang-dayang? Ataukah dengan pengawal yang siap dengan senjata lengkap untuk melindungi-Nya?

Dia datang dalam kesunyian, hanya ditemani dengan bunyi jangkrik yang bersahutan memecah kesunyian malam. Tidak ada sambutan yang gegap gempita. Dia juga datang bukan di istana yang megah dan dilayani oleh dayang-dayang. Akan tetapi Dia datang sebagai Anak Manusia dari keluarga yang sederhana. Bahkan kelahiran Sang Raja Agung di palungan yang sangat hina. Dia yang digambarkan sebagai Raja Semesta Alam datang sebagai seorang manusia yang lemah. Akan tetapi, sekalipun lemah, Dia kuat, dan sekalipun miskin, dia sangat kaya.

Seorang raja biasanya dihormati, dilayani dan hidup dalam istana yang mewah. Yesus, yang adalah Raja Semesta Alam justru menampilkan diri sebagai orang yang sederhana dan justru kontroversi dengan kata “raja” karena justru Dia datang ke dunia untuk melayani setiap orang. Raja Agung itu hadir di dunia dengan menanggalkan kemahaagungan-Nya untuk dan menjadi sama seperti manusia. Ia datang untuk mencari orang yang berdosa dan ingin menyelamatkan semua orang dari lumpur kenistaan. Dia menginkan semua orang untuk selamat. Dia merelakan tubuh dan darah-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Dengan perjamuan Ekaristi, kita makan dan minum darah-Nya untuk keselamatan manusia. Dia juga seorang merupakan seorang Hakim Agung yang penuh belas kasih dan kelembutan.

Oleh : Vincent melalui http://fraterxaverian.org/blog/2017/11/2...esta-alam/

Print this item

  Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah
Posted by: Ari - 11-22-2019, 09:30 PM - Forum: Kitab Suci, Magisterium, Tradisi Suci - No Replies

“Santa Perawan Maria sudah barang tentu melakukan kehendak Bapa, dan baginya jauh lebih berarti menjadi seorang pengikut Kristus daripada menjadi Bunda-Nya, dan ia lebih diberkati sebagai pengikut-Nya daripada sebagai bunda-Nya. Baginya suatu kebahagiaan untuk mengandung dalam rahimnya seorang Putera yang akan ditaatinya sebagai Tuhan-nya.”
St. Agustinus.

Ketika usianya baru tiga tahun, Santa Perawan Maria dibawa oleh kedua orangtuanya, St. Yoakim dan St. Anna, ke Bait Allah di Yerusalem. Seluruh hidup Maria dipersembahkan kepada Allah. Tuhan telah memilih Maria untuk menjadi Bunda dari Putera-Nya, Yesus. Santa Maria gembira dapat mulai melayani Tuhan di Bait Suci. Dan St. Yoakim serta St. Anna juga merasa bahagia dapat mempersembahkan puteri kecilnya yang kudus kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan telah mengirimkan Maria kepada mereka.

Di Bait Allah, Imam Besar menerima kanak-kanak Maria. Ia akan ditempatkan di antara para gadis yang dipersembahkan bagi kepentingan doa dan pelayanan Bait Suci. Imam Besar mencium serta memberkati kanak-kanak suci itu, ia tahu bahwa Tuhan telah merancangkan suatu hal besar baginya. Kanak-kanak Maria tidak menangis atau pun merengek dan kembali kepada orangtuanya. Ia datang dengan amat girangnya ke altar sehingga semua orang yang ada di Bait Allah jatuh hati kepadanya.

St. Yoakim dan St. Anna pulang kembali ke rumah mereka. Mereka memuliakan Tuhan oleh karena puteri mereka terberkati. Maria tetap tinggal di Bait Allah, di mana ia tumbuh dewasa dalam kekudusan. Maria melewatkan hari-harinya dengan membaca Kitab Suci, berdoa serta melayani para imam di Bait Suci. Ia menenun kain halus serta menjahitnya menjadi baju-baju yang indah. Maria dikasihi oleh para gadis yang lain sebab ia amat lembut hati. Maria berusaha untuk melakukan semua kewajibannya dengan sebaik-baiknya agar dapat menyenangkan hati Tuhan. Maria bertumbuh dalam rahmat Tuhan sehingga semakin nyatalah kemuliaan Tuhan.

Sumber : yesaya.indocell.net
https://keuskupanpadang.org/selasa-21-no...ada-allah/

Print this item